hermansaksono

Gerakan Syahwat Merdeka

Januari 18, 2007 · & Komentar

Apa sebetulnya maksud pidato Taufik Ismail tentang Gerakan Syahwat Merdeka?

Pidato ini berisi 37 paragraf tentang keluh-kesah Pak Ismail yang memojokkan esensi kemerdekaan pribadi. Paragraf-paragraf yang tidak konstruktif dan terasa hanya untuk kepuasan diri. Seperti onani saja. Heheheh.

Saya jadi ingat pelajaran sewaktu SD kalau kemerdekaan lahir dari semangat sebangsa dan setanah air. Persatuan ini membuahkan Republik Indonesia yang bebas dari penjajahan politik. Yang sering dilupakan, rasa persatuan pada waktu itu juga disertai kesadaran para pendiri negara bahwa kita ini tidak homogen, tapi terdiri dari agama, suku, dan kelompok yang sangat beragam. Dan kebhinekaan ini masih ada sampai saat ini.

Saya rasa itu alasan kenapa pendiri negara ini memilih demokrasi, bukan format negara yang lain, karena demokrasi menjunjung personal freedom, alias kemerdekaan pribadi. Personal freedom melindungi keberagaman kita.

Pidato Pak Ismail meragukan esensi keberagaman ini dengan menghakimi berbagai hal yang masuk ranah pribadi. Lebih parah lagi, beliau juga mencampur isu pribadi dengan kejahatan tangible, seperti aborsi dan penggunaan narkoba. Taktik semacam ini membuat sesuatu yang belum tentu salah, menjadi salah.

Sayang sekali kalau sosok sekaliber beliau menggunakan metode yang tidak santun untuk mengkritisi masyarakat. Para pendukung pidato ini sepantasnya kecewa karena ketidak-santunan ini berbuntut mentidak-efektifkan ajakan beliau.

Mohon maaf Pak Ismail, saya rasa menunjukkan flaw pada tiap baris di pidato tersebut bukanlah sebuah pekerjaan yang susah.

Masalahnya, nggak ada yang mau ngganggu orang onani.

Addendum: Link ke liputan kejadian ini di Republika. Mohon maaf karena saya lupa mencantumkan link tersebut, sehingga membuat beberapa teman bingung.

→ 31 CommentsKategori: politik · society

Kekurangan Konstitusi Kita

Januari 18, 2007 · & Komentar

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menyebutkan 6 hal kenapa UUD ‘45 hasil amandemen ke-4 adalah konstitusi yang baik, sehingga tidak cukup alasan untuk kembali ke UUD ‘45. Tulisan tersebut sebetulnya saya niati sebagai tulisan dua bagian. Bagian ke dua, tentu saja, apa yang masih kurang di UUD ‘45 hasil amandemen. Ada tiga hal yang cukup signifikan, untuk saat ini:

Peran DPD terlalu lemah
Keberadaan Dewan Pertimbangan Daerah dalam negara ini masih terlalu lemah. Dalam konstitusi, DPD hanya bisa menyarankan dan memberikan pertimbangan. Tidak bisa turut membuat putusan. Ketimpangan ini menyakitkan, terutama bagi provinsi yang jumlah penduduknya sedikit, karena mereka lebih terwakili oleh DPD dibanding DPR.

Peran MK terlalu kuat
Mahkamah Konstitusi memang memberikan angin perimbangan yang segar, karena MK mencegah kubu legislatif (DPR) dan eksekutif (Presiden) menjadi terlalu kuat. Masalahnya, saat ini MK justru terlalu kuat karena dapat membatalkan udang-undang dengan mudah. Oleh karena itu, kekuatan lembaga ini juga perlu diimbangkan. Antara lain dengan memberikan kuasa bagi Komisi Yudisial untuk mengawasi hakim konstitusi serta melarang MK mengambil keputusan diluar permintaan penuntut. Keduanya melalui amandemen.

UUD 45 Terlalu Mudah Dirubah
Sekarang ini, untuk merubah dasar negara gampang sekali. Cukup menghadirkan 2/3 anggota MPR dan pastikan setengahnya menyetujui perubahan itu. Artinya, untuk merubah nasib negara, cukup menghadirkan 450 dari 675 anggota MPR, dan pastikan 226 yang hadir di sidang menyetujui perubahan yang diajukan. Jika berandai-andai yang ekstrim, bukan tidak mungkin setelah pemilu tahun 2009 depan, Indonesia dijadikan negara berbasis syariat Islam, lalu setelah pemilu berikutnya diganti jadi negara komunis. Kemudahan amandemen ini bermata dua, walaupun fleksibel, ketidakpastian yang ditimbulkan mengancam kestabilan negara.

Sebagai perbandingan, amandemen konstitusi AS pertama-tama harus disetujui 2/3 anggota Kongres AS, kemudian harus di disetujui oleh 2/3 dari 50 negara bagian. Perancang konstitusi AS memang menginginkan perubahan konstitusi tidak mudah, tetapi tetap dimungkinkan.

→ 16 CommentsKategori: politik

Scientology Beckham

Januari 15, 2007 · & Komentar

Berita tentang David Beckham di detikcom ini memang bikin penasaran. Rupanya, pebola mahsyur dari Inggris itu sempat konsultasi dengan Tom Cruise sebelum pindahan ke klub LA Galaxy di Amrik. Emang kenapa kalau Tom Cruise?

Mas Cruise itu, selain dikenal dengan insiden loncat-loncat di sofanya Oprah Winfrey, juga dikenal sebagai promotor agama Scientology yang taat. Konon, pernikahan Tom dengan Nicole Kidman kandas karena Tom ingin Nicole—yang Katolik—pindah ke Scientology. Tom juga pernah bikin Brooke Shields tersinggung gara-gara mengkritik mbakyu Brooke memakai obat penenang setelah melahirkan; karena bagi orang Scientology, psikiater dan obat penenang itu haram hukumnya.

Scientology yang didirikan oleh Ron L Hubbard memang sering mengundang kontroversi. Kepercayaan ini dikritik karena tindakan-tindakan yang berbau cuci otak serta menguras uang penganutnya. Cerdasnya, gereja Scientology suka memakai seleb Hollywood untuk mengendorse agama mereka. Scientologist yang seleb antara lain John Travolta dan Kristie Alley, selain juga Tom dan istri barunya Katie Holmes.

Kebiasaan merekrut selebriti ini mengundang pertanyaan. Ketika Tom dan Beckham nampak semakin dekat, apakah Tom juga hendak menjadikan David Beckham dan Victoria penganut Scientology? Fantastis memang membayangkan publisitas yang diperoleh gereja Scientology kalau atlet sengetop Beckham turut mengendorse agama ini.

Akan tetapi kalau kita perhatikan catatan di situs ini, Beckham sudah terdaftar sebagai penganut Scientology sejak tahun 1978, serta telah mencapai kemuliaan tahap pertama di tahun 2003. Entah ini David Beckham suaminya Posh Spice, atau David Beckham yang tukang ngangsu di istana Buckingham.

→ 26 CommentsKategori: serba-serbi

The Politics Behind Every iPod

Januari 13, 2007 · & Komentar


I have always been curious with the markings you’d found behind every iPod. It’s the ambiguous ‘Designed by Apple in California, Assembled in China’ thingy. Were Steve Jobs refering to the Republic of China, or the People’s Republic of China?

You see, those pretty MP3 players were assembled in Taiwan, by a lesser known company called Foxcomm, which happens to employ 60,000 people in Shenzen. A report by the Mail newspaper revealed that the workers were underpaid, which—of course—Foxcomm and Apple later denied.

This leads us to wonder, why couldn’t Apple put ‘Taiwan’ instead of ‘China’, if those iPods is really are produced in Taiwan?

Thats half of the story. In January 9th, Apple repeated their hidden political gesture when Steve Jobs announced his new toy: The Almighty and also The Alcontroversial: iPhone.


If you look closely to iPhone’s demo video, you’d notice that Apple used a page from NYTimes which happens to display a news on US’s Democratic Party’s recent winning in the midterm election. Complete with a huge picture of Nancy Pelosi, the current US’ Speaker of The House (thats Ketua DPR to you Indonesians). They could have used a different story, but they go with this one. Why? Thats something you’d have to ask Steve Jobs. Politely.

Conclusion: Apple make pretty phones; doesn’t recognize the Republic of China as a nation; and is a pro Democrats. :)

→ 14 CommentsKategori: finds · serba-serbi

Cara Nyimeng Yang Salah

Januari 13, 2007 · & Komentar

  1. Sembunyi dulu di kamar mandi, kunci pintunya.
  2. Letakkan kipas angin kecil untuk membuang asapnya nanti.
  3. Letakkan cacahan daun cimeng di dekat kipas.
  4. Hidupkan kipas angin.

Disclaimer: Ini bukan tips serius. Jangan memakai narkotika atau zat terlarang lain ya.

→ 13 CommentsKategori: random · tips and tricks

Nonton Dekat TV dan Bawah Sadar Mismatch

Januari 11, 2007 · & Komentar

Anak Kecil Nonton TVMasih ingat ndak sama dik Vina—putri Pak Ripto, penjaga malam tempat saya nyambut gawe—yang pernah tanya ke saya dimanakah surga dunia itu? Yang kemudian jawabannya saya tulis di blog. Yang ternyata banyak orang googling ’surga dunia’ hingga turut mengkatrol traffic blog ini?

Dik Luluk, adiknya Vina punya kisah sendiri.

Setiap jam rehat siang, saya dan teman-teman kantor bercengkrama di kantinnya Pak Ripto. Nah setiap siang, si Luluk yang masih kelas 1 SD ini selalu nonton TV di kantin. Kadang saking tertariknya sama acara TV nasional, dik Luluk sering mendekatkan matanya ke TV sampai sekian senti. Mungkin supaya bisa lihat detil wajah Ian Kasela.

Rupanya kebiasaanya Luluk bikin gatel teman-teman saya, sehingga sering kali mereka menghardik Luluk:

“Luluk, nonton tivinya jangan deket-deket,”

atau

“Luluk matanya rusak lho nanti.”

atau

“Luluk ingin kebebasan finansial?” (Lho teman saya malah promosi MLM sama anak kecil!).

Kembali ke laptop! Sebetulnya wajar juga. Siapa sih yang nggak diajari orang tua kalau melototi tivi dekat-dekat bikin mata rusak? Saking seringnya mungkin ajaran ini sudah merasuk ke pikiran bawah sadar kami, generasi TVRI1.

Setidaknya saya boleh berbangga karena teman-teman saya telah mendefinisikan arti ironi: Walaupun sering menghardik anak kecil agar jangan nonton tivi dekat-dekat, teman-teman saya yang pekerja IT itu kerjaanya melototi tabung CRT monitor tiap hari. Apakah ada definisi ironi yang lebih ciamik dari itu? :D

So (halah pake basa Inggris!), walaupun kadang-kadang bawah sadar sudah sadar tentang doktrin anak kecil tidak boleh nonton TV terlalu dekat, kesadaran justru tidak sadar kalau tiap hari kita melototi monitor komputer.

1 Kebenaran teori kalau menonton TV terlalu dekat merusak mata masih menjadi perdebatan, karena televisi modern pada dasarnya tidak merusak mata.

→ 13 CommentsKategori: thoughts

Top Ten Alasan Pengendara Motor Ketika Kepergok Tidak di Lajur Kiri

Januari 11, 2007 · & Komentar

Foto dari KCM/Ahmad Zamroni
10
“Lho, kemarin saya kan sudah ditilang?”

9
“Apakah Pak Polisi ingin uang bekerja untuk bapak, bukan bapak bekerja untuk uang?”

8
“Oh, ada pengadilan di tempat? Bisa sekalian menceraikan istri saya ini?”

7
“Aduh, kalau dendanya seratus ribu, ditilang tiga kali, duitnya bisa buat kridit motor baru dong”

6
“Tenang pak polisi, saya akan menggunakan bahasa terang dalam menjelaskan alasan saya. Kurang saya katakan kurang, baik katakan baik. Dengan demikian, tidak ada dusta di antara kita.”

5
“Saya punya bisul di pantat kiri pak… Tidak baik kata dokter…”

4
“Di ujian SIM boleh tuh”

3
“Ini bukan motor, tapi vespa.”

2
“Itu pembatasnya nengah-nengah sih!”

1
“Kiri saya, atau kiri pak polisi?”

Foto dari KCM/Ahmad Zamroni

→ 12 CommentsKategori: top ten

Kenapa kita berkendaran di kiri jalan?

Januari 10, 2007 · & Komentar

“Repot sekali, mau naik motor aja harus di lajur kiri”, gerutu seorang pengendara motor yang baru saja ditilang Rp 30 ribu. Siapa sih yang iseng banget bikin aturan seperti ini?

Mari kita runut.

Di jaman Inggris kuno, para ksatria suka naik kuda. Berhubung para ksatria tidak kidal, maka pedang selalu dipegang tangan kanan dan perisai di tangan kiri. Nah, karena perisai dipegang tangan kiri, untuk melindungi dada ketika hendak naik kuda, mereka selalu dari naik-turun dari sisi kiri kuda. Selain itu, kalau lagi asyik kuda-kudaan lalu si ksatria diserang, berduel di sisi kiri jalan jauh lebih enak. Kebiasaan ini lama-lama diundangkan dan menjadi aturan formal. Adat ini juga diadopsi oleh negara-negara Eropa lain.

Di Jepang ada sejarahnya sendiri. Di jaman Edo, samurai Jepang punya adat untuk berkuda di kiri jalan untuk mencegah dua samurai yang saling berpapasan brantem gara-gara kedua pedang mereka bersenggolan (PMS?). Akan tetapi, pada masa itu penduduk non-samurai tetap saja berkuda di sembarang sisi jalan. Pembakuan aturan berkendaraan di sebelah kiri baru muncul setelah kereta api dari Inggris mulai masuk ke negeri mungil seribu gempa nan-kaya itu.

Amerika lain lagi. Karena semula koloni Inggris, orang Amerika berkuda di kiri jalan. Akan tetapi, saking sakit-hatinya sama Inggris, penduduk Amerika berusaha menanggalkan citra koloni Inggris. Antara lain, mereka memutuskan untuk berkuda di kanan jalan. Pindah ke kanan konon juga untuk menghormati Perancis yang telah membacking perang melawan Inggris.

Perancis?

Jadiii… bangsawan Perancis itu aslinya juga berkuda di kiri jalan. Tetapi setelah revolusi Perancis, untuk melawan kemapanan, orang Perancis banting haluan ke kanan jalan. Napolen yang pada masa pemerintahannya mengekspansi Perancis ke negara-negara Eropa turut menyebarkan kebiasaan ini. Walhasil, negara yang disatroni Perancis seperti Belanda juga ketularan berkendaraan di kanan jalan.

Kalau orang Belanda berkanan-jalan, kenapa kita berkiri jalan? Ternyata, walaupun Belanda memang dikuasai Perancis pada tahun 1795, sejak tahun 1602 Belanda (yang waktu itu masih di sebelah kiri) sudah menjajah Indonesia dan terlanjur menularkan kebiasaan berkiri jalan. Rupanya benar juga kalau old habit die hard.

Fyuff… sekian, factoid hari ini kita cukupkan sampai sini.

→ 12 CommentsKategori: serba-serbi

FFI-pun Menjiplak

Januari 9, 2007 · & Komentar

Panggung Oscar dan FFIFilm pemenang Festival Film Indonesia 2006, Eskul disomasi oleh Universal Records karena diduga menjiplak musik latar Gladiator dan Munich. Yang kita tidak tahu, ternyata panitia FFI pun pernah menjiplak desain panggung Oscar. Bandingkan gambar atas (panggung Academy Awards ke-74 tahun 2002) dan yang bawah (panggung FFI 2004).

Perhatikan bentuk proscenium panggung yang setengah lingkaran itu, yang juga sama-sama dibalut dengan sutra keemasan disasak.

Menjiplak atau terinspirasi? Bedanya tipis :)

→ 9 CommentsKategori: movies

Varian Lain HaloBebas Telkomsel

Januari 7, 2007 · & Komentar

Rupanya tidak semua paket HaloBebas lolos ke publik. HaloBebas Tagihan misalnya, urung muncul sebagai paket alternatif. Padahal asik lho kalau kita sesuka hati telpon tanpa dapat tagihan. Nah, ini beberapa paket lain yang mungkin juga tidak akan lolos:

HaloBebas Dikembalikan
HaloBebas Dikembalikan. Terinpirasi oleh langkah berani sineas muda pemenang FFI yang mengembalikan Piala Citra mereka untuk memprotes kemenangan Eskul pada Festival Film Indonesia 2006.
HaloBebas Poligami
HaloBebas Hilang. Mungkin maksudnya tarifnya murah banget, tapi sinyalnya sering ilang.
HaloBebas Poligami
HaloBebas Poligami. Dibuat karena market keluarga dgn 4 istri mulai tumbuh, apalagi beberapa tokoh nasional semakin berani berpoligami secara terbuka.

Enaknya milih yang mana nih?

Disclaimer: Posting ini tidak serius.

→ 19 CommentsKategori: random