Dulu, waktu main ke Singapura, saya beli tiga kuntum bunga plastik yang besar buat ibu saya. Bentuknya bagus, kayak bunga betulan, warnanya merah. Repotnya, sepanjang Orchard Road saya terpaksa menenteng tiga bunga feminim yang panjangnya 70 senti itu. Memang bikin penat, tapi minimal tidak serasa orang sinting, karena tidak ada tatapan aneh ataupun lirikan menghakimi dari para singapurawan maupun singapurawati. Tidak seperti kalau di tempat kelahiran saya. Lagipula, udara Singapura segar dan trotoarnya luas bersih. Nyaman sekali buat pejalan kaki yang menenteng 3 bunga merah besar seperti saya.
Sepulangnya di bandara Semarang, lagi-lagi saya harus menenteng tiga bunga yang mencolok mata tadi, walaupun kali ini lebih repot karena bawaan saya ditambah sebuah koper yang berat. Suasananya juga beda, airport Ahmad Yani tentu saja bertolak belakang dengan Changi. Sudut-sudut yang kumuh disesaki wajah prihatin—plus bau-bau anehnya—rupanya mengingatkan halus kalau saya sudah kembali ke dunia nyata.
Dalam perjalanan menuju parkiran, ada tiga orang bapak sopir taksi yang sedang bersandar di pagar. Dengan gerakan tiba-tiba, salah satu bapak itu dengan lancang menyentuh bunga plastik saya. Lho apa ini, pikir saya. Kemudian dia tersenyum, bersandar ke pagar dan bilang ke teman-temannya, “Tenan to! Mung kembang apus-apusan kok.” Artinya, “Benar kan! Cuma bunga palsu kok.”
Oalah, bapak ini cuma mau memastikan itu bunga palsu, bukan bunga betulan.
Entah kenapa, tapi saya malah senang bapak tadi tidak enggan memastikan bunga itu bukan betulan. Mungkin, si bapak merasa kalau saya dan dia itu cuma saudara jauh. Kalau saudara buat apa enggan?
Dalam hati saya tersenyum simpul dan berpikir, “I am home “
21 tanggapan so far ↓
Syah // Januari 30, 2007 pada 10:39 pm |
Mbilung // Januari 30, 2007 pada 11:39 pm |
kamunya ndak sekalian dijawil mon?
tikabanget // Januari 31, 2007 pada 1:08 am |
loh? sodara jauh tho..?
pinjem duit aja mon..
dian mercury // Januari 31, 2007 pada 1:28 am |
berarti orangg kita lebih ‘dekat’ ya.
kamu suka yg mana, mon ?
hery // Januari 31, 2007 pada 2:28 am |
Tapi sueer aku lebih suka orang indonesia deh, walaupun hujan emas di negeri orang masih mending ga hujan di negri sendiri deh. Hujan emas sakit tuh kena kepala hiks..hiks
sushartami // Januari 31, 2007 pada 4:31 am |
mungkin karena di s’pore dianggap orang asing makanya dicuekin, tapi mereka juga banyak yang suka pingin tahu lho–istilahnya keipoh (nosey)–samalah dengan si bapak di semarang itu
nananias // Januari 31, 2007 pada 10:49 am |
to cherish small (yet significant) thing(s) around us, hmm.. nice post.
dendi // Januari 31, 2007 pada 12:40 pm |
saya belum pernah berbuat sehebat itu untuk ibu saya lho..
Hedi // Januari 31, 2007 pada 1:01 pm |
posting yang menohok
dewi // Januari 31, 2007 pada 2:47 pm |
saudara. that’s a simple word with a huge of meanings..nice post.
E V Y // Januari 31, 2007 pada 4:22 pm |
good boy…!! I just got nice bracelet from my son too…
Isabella // Januari 31, 2007 pada 5:38 pm |
hahaha bapak itu lucu kalo nurut gue
Paman Tyo // Januari 31, 2007 pada 6:42 pm |
lha, tenan to hormon bisa bikin cerita menyentuh sing personal. ora apus-apusan iki!
bahasa semarangnya: “hè-èh, isih dikiro sadulur kok! trang rak enak is nyekel kembangku. tak gethok kowe, piye jal?”
Akhmad Fathonih // Februari 1, 2007 pada 5:10 am |
pointnya pada singaporeans yang super cuex (menghargai apa cuex) atau pada orang indonesia yang bau-bau tapi sensitif (apa sok campur tangan)?
venus // Februari 1, 2007 pada 8:02 am |
bapak yang nyolek bungamu itu…khas orang kita
tapi kok agak2 annoying buat aku, ya?
agak lancang. oiya, ‘orang kita’ dhing ya
doc_wong // Februari 1, 2007 pada 9:46 am |
Bilangin: My flowers fake not, don’t you follow mix (Bunga gue palsu ngga, jangan lu ikut campur…!)
Singlish gak sih? Singlish maksa kalik ya
doc_wong // Februari 1, 2007 pada 9:49 am |
Tambahin lagi, singlishnya: “My body is not delicious. Enter wind.” (Badan gue lagi gak enak, masuk angin). Hihihihi. Bukan singlish kalik ya, Mon.
Syah // Februari 1, 2007 pada 2:53 pm |
@ doc_wong : ok.. ok no what-what. tidak apa-apa
Herman Saksono // Februari 1, 2007 pada 5:07 pm |
Terima kasih untuk komentar-komentarnya
Dino // Februari 2, 2007 pada 12:58 pm |
Indonesia bikin prihatin, apalagi kalo abis pulang dari luar negeri, kerasa banget..
oming aja // Februari 9, 2007 pada 5:35 pm |
hikss..
jadi pengen pulang
kangen ma ke- Indonesia -an itu…
sekali Indonesia
tetap Indonesia
*yanglagidiluarnegeri*